..........................................................** BENING DAMHUJI
Mata air
Mata air!
Telah kering
Hutan kami dibabat
Hidup kami disembelih
Airmata
Mata air!
Semerah darah
Pohon kami meranggas
Hujan pun bagai percikan api
Panas kerontang
Bagai terpanggang di tungku matahari
Duh,
Ikan kami megap megap mati
Burung kami telah pergi
Habitan dan sarang porak poranda
Kiamatkah ini?
Apakah kiamat sudah dekat?
Atau kiamat sudah datang sebelum kiamat?
Wahai Zat Sang Pengatur Semesta Raya
Inikah keadilan?
Atau inikah hukuman?
Atau inikah kehidupan yang sesungguhnya?
Seperti kata para sufi
Teraniaya adalah kebahagiaan!
Penderitaan adalah kemuliaan!
Musibah adalah bukti kasih sayang Tuhan!
Mungkinkah,
Hutan kami, mata air kami, pohon kami, burung kami, ikan kami
atau apa apa kami telah belajar ilmu ikhlas?
Wallahualam!!!
---seribu tanda baca tak cukup muntahkan sesak aksara di dada----------------------------------------------------------------------------
Tampilkan postingan dengan label BENING DAMHUJI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BENING DAMHUJI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 November 2011
Kirimkan Aku Seorang Pria Dari Langit
................................................................** BENING DAMHUJI
Musim silih berganti
Kelaraan ibarat bianglala jelaga
Kenangan kenangan merah putih kelabu
menapaki sangkala tak berbilang jemari
Kisah merpati yang tiada kunjung pulang
Mengiris bingkai hari yang terus berlari
Melati di sudut taman berguguran tanpa angin
Raksi nan mewangi luruh berkalang tanah
Muram durja jiwa berbalut mendung sepanjang tahun
Hati yang patah letih bersemayam kelambu kegamangan
Cinta telah merobek sebagian dinding nurani
Tamparan halimbubu pun tiada jua bangkitkan gairah
Sungguh nelangsa!
Airmata hampir kering bagai genangan sungai dihisap kemarau
Luka lama laksana guratan pedang pada sebatang pisang
Tampak kering namun berdarah darah
Sedang, pasir pasir waktu liar melibas usia yang kian memanjang
Tangan tangan yang menghela bagai dipaku
Merangkul namun terikat di tebing sangsi
Berhak atas keseluruhan, namun terpaksa untuk mengerti
Kesendirian dalam penantian tiada bertumpu, kerinduan telah tawar pula!
Tuhan, demi masamu yang terus bergulir
Tolong, kirimi aku seorang pria dari langit
Pria perkasa bak matahari
Hatinya seindah rembulan
Cintanya seputih mega
Janji janjinya sekemilau bintang fajar
Duhai Maha Raja pemilik segenap keajaiban
Seluruh kehendak berada di ujung penaMU
Dengan sembrani terkapar, lemparkan petunjukMU untuk jasad malu ini!
(Untuk sahabat wanitaku yang lara, katanya)
Musim silih berganti
Kelaraan ibarat bianglala jelaga
Kenangan kenangan merah putih kelabu
menapaki sangkala tak berbilang jemari
Kisah merpati yang tiada kunjung pulang
Mengiris bingkai hari yang terus berlari
Melati di sudut taman berguguran tanpa angin
Raksi nan mewangi luruh berkalang tanah
Muram durja jiwa berbalut mendung sepanjang tahun
Hati yang patah letih bersemayam kelambu kegamangan
Cinta telah merobek sebagian dinding nurani
Tamparan halimbubu pun tiada jua bangkitkan gairah
Sungguh nelangsa!
Airmata hampir kering bagai genangan sungai dihisap kemarau
Luka lama laksana guratan pedang pada sebatang pisang
Tampak kering namun berdarah darah
Sedang, pasir pasir waktu liar melibas usia yang kian memanjang
Tangan tangan yang menghela bagai dipaku
Merangkul namun terikat di tebing sangsi
Berhak atas keseluruhan, namun terpaksa untuk mengerti
Kesendirian dalam penantian tiada bertumpu, kerinduan telah tawar pula!
Tuhan, demi masamu yang terus bergulir
Tolong, kirimi aku seorang pria dari langit
Pria perkasa bak matahari
Hatinya seindah rembulan
Cintanya seputih mega
Janji janjinya sekemilau bintang fajar
Duhai Maha Raja pemilik segenap keajaiban
Seluruh kehendak berada di ujung penaMU
Dengan sembrani terkapar, lemparkan petunjukMU untuk jasad malu ini!
(Untuk sahabat wanitaku yang lara, katanya)
Tidur Tanpa Mimpi
.......................................................** BENING DAMHUJI
Baringkan jiwa di tikar realita
Lepaskan keletihan hari-hari yang patah hati
Lupakan janji menawan yang diingkari
Mimpi tetaplah mimpi
Mimpi indah pun tetaplah mimpi
Sekarang tidur, tidurlah perempuan ayu..!
Jangan lagi meminta mimpi
Pintalah kepada Tuhan, semoga tidurmu tanpa mimpi
Pejamkan mata jiwamu
Biarkan embun menjadi selimut
Esok berkatalah kepada kenari dan matahari
"Bahwa jiwaku berada di genggaman Tuhanku..
aku telah hilang dari hiruk pikuk mimpi
kini aku telah tidur tanpa mimpi
tidur tanpa mimpi di tikar realita..!"
Baringkan jiwa di tikar realita
Lepaskan keletihan hari-hari yang patah hati
Lupakan janji menawan yang diingkari
Mimpi tetaplah mimpi
Mimpi indah pun tetaplah mimpi
Sekarang tidur, tidurlah perempuan ayu..!
Jangan lagi meminta mimpi
Pintalah kepada Tuhan, semoga tidurmu tanpa mimpi
Pejamkan mata jiwamu
Biarkan embun menjadi selimut
Esok berkatalah kepada kenari dan matahari
"Bahwa jiwaku berada di genggaman Tuhanku..
aku telah hilang dari hiruk pikuk mimpi
kini aku telah tidur tanpa mimpi
tidur tanpa mimpi di tikar realita..!"
Langganan:
Postingan (Atom)